catatan-catatanku

A Blog.com weblog

sahih bukhari

Filed under kitab hadis by umayyah.syarifah on 19-01-2010

Manhaj Imam al-Bukhari dalam kitab al-Jami’ al-Sahih
(Diterbitkan di Jurnal Hermenetik STAIN Kudus Fak. Ushuluddin Tafsir Hadis V. III)
B Pendahuluan
Sejarah telah mencatat sekian banyak ulama yang berupaya dalam menghimpun hadis sesuai keadaan zaman masing-masing dan melakukan kajian terhadap masalah yang berhubungan dengan hadis, diantaranya adalah Imam al-Bukhari sebagaimana dikenal umat Islam sebagai tokoh hadis yang tidak hanya terkenal karena kehebatan dan kecerdasannya, tetapi juga masyhur karena karya besarnya yang lebih dikenal dengan Sahih al-Bukhari.
Shahih al-Bukhari merupakan karya hadis monumental yang diakui kesahihannya. Dipopulerkan Ibn shalah dan diikuti Imam Nawawi bahwasanya Shahih al-Bukhari merupakan kitab yang paling otentik sesudah al-Quran. dan sepertinya pendapat itu masih relevan sampai sekarang.
Penulis mencoba memotret sosok imam al-Bukhari meliputi: profil Imam al-Bukhari, kandungan dan metode penulisan al-Jami’ al-Shahih, dan kritetia apa yang digunakan Imam al-Bukhari dalam menyeleksi hadis-hadisnya.

A. Biografi Bukhari
Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim Ibn Mughirah ibn Bardizbah al-ju’fi Bukhari . Lahir pada hari jum’at 13 syawal 194 H di Bukhara, dan meninggal pada tanggal 30 Ramadhan 256 H.
Ayahnya bernama Ismail bin Ibrahim al-Ju’fi , ayahnya adalah seorang peminat hadis, ketika ismail berhaji ke Makkah pada tahun 179 H beliau menyempatkan diri menemui tokoh-tokoh hadis seperti Imam Malik bin Anas, Abdullah bin al-Mubarak, Abu Muawiyah bin Shalih. Diantara yang meriwayatkan hadis darinya: Ahmad ibn ja’far, nashr ibn al-Husein, Ahmad ibn Hafs. Menjelang wafat, beliau mengatakan “tak sepersepun dari hartaku bercampur dengan barang subhat”
Di saat usianya belum genap sepuluh tahun, imam al-Bukhari telah mulai belajar hadis, diceritakan seseorang bernama sufyan membacakan sebuah hadis yang diriwayatkan Abi al-Zubeir dari Ibrahim, imam al-Bukhari menyelanya dan mengatakan”ini adalah salah” Abi al-Zubeir tidak pernah meriwayatkan hadis dari Ibrahim, tapi Zubeir ibn Adi yang meriwayatkannya dari Ibrahim, kemudian Sufyan cek ulang dalam buku aslinya, ternyata imam al-Bukhari benar adanya.
Ketika usia imam al-Bukhari menginjak enam belas tahun beliau telah menghapal matan sekaligus rawi dari beberapa kitab karangan Ibn Mubarak dan Waqi. Kemudian beliau menunaikan ibadah haji bersama ibu dan kakaknya, dan menetap disana. Imam al-Bukhari menjumpai guru-guru hadis di berbagai negeri, beliau pergi ke Makkah al-Mukarromah untuk berguru pada Imam al-Humaydy selama tujuh tahun, kemudian dilanjutkan ke Madinah beliau berguru pada Makki ibn Ibrahim (w.214 H) dan disini pula beliau menulis dua karya: Qadhaya al-Shahabah wa al-Tabi’in dan Tarikh Kabir yang ditulis disamping makam Rasulullah saw. Di Nishapur beliau belajar dari yahya ibn Yahya al-Naisabury (w. 226H), Basyar ibn al-Hakam dan Ishaq, di Baghdad beliau berguru pada Syuraih ibn al-Nu’man dan Affan,di Merv beliau belajar dari Ali ibn al-Hasan ibn Syaqiq dan Abdan abu M. al-Marwazi (w. 220 H), di Ray beliau belajar dari Ibrahim bin Musa al-Hafiz, di Basrah beliau berguru pada Abi ‘Ashim al-Nabil, di Kufah beliau berguru pada Ubaidillah bin Musa, di Syam beliau berguru pada Abu al-Mughirah al-Firyabi, di Asqalan beliau berguru pada Adam. Di daerah-daerah itulah Imam al-Bukhari banyak berguru kepada ahli hadis, beliau mengatakan “aku menulis hadis dari 1080 guru yang semuanya adalah ahli hadis diantaranya adalah Ali ibn al-Madini, Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Ma’in, Muhammad ibn yusuf al-Firyabi dan Ibn Ruhawaih.
Ibn Hajar dalam al-Hady al-sary mengatakan bahwa guru-guru imam al-Bukhari berjumlah sekitar 1080 dan semuanya adalah ahli hadis. Sedangkan murid-muridnya berjumlah sekitar 90.000 orang. Diantaranya: imam Muslim, al-Turmudzi, al-Nasai, al-Darimy, Ibn Khuzaimah, Abu Zur’ah, Abu Hatim, dan Mansur ibn Muhammad al-Bazdawy adalah murid terakhir yang meriwayatkan dari beliau.
Perjalanan imam al-Bukhari dalam mencari hadis di mulai sejak 210 H, dari puluhan kota yang beliau kunjungi, sekitar 600.000 hadis telah beliau dapatkan.
Imam al-Bukhari berhasil menghapal seratus ribu hadis sahih dan dua ratus ribu hadis yang tidak shahih, beliau adalah ulama yang memiliki ilmu yang sangat luas dalam bidang hadis, imam al-Bukhari tidak hanya seorang pelajar yang cerdas, namun juga produktif, disamping belajar beliau juga menghasilkan banyak karya.
Para ulama telah memberikan kesaksian atas keilmuan dan kuatnya hapalan imam al-Bukhari, diriwayatkan oleh Ahmad ibn Adi al-Hafidz, Abu Abdillah al-Humaydi dalam kitab Jadzwah fi al Muqtabis, dan Khatib al-Baghdady dalam Tarikh Baghdad.
Pada usianya yang ke 62, imam al-Bukhari kembali menetap di Bukhara, pergi ke desa Khartank di kawasan Samarqand untuk menjenguk saudaranya yang bernama Ghalib bin Jibril, disinilah beliau wafat tepat pada hari sabtu, malam Idul Fitri 1 syawal 256 H 9870 M) . sedangkan menurut riwayat lain menngatakan beliau wafat pada malam selasa 256 H.
Diantara karya-karya beliau: al-Tarikh al-Kabir, al-tarikh al-Ausath, al-tarikh al-saghir, al-Dhuafa’ al-Shaghir, al-Musnad al-Kabir, al-Tafsir al-Kabir, kitab al-Hibah, kitab al-Ilal, al-Adab al-Mufrad, kitab al-Aqidah wa al-Tauhid, al-Kuna, Raf’a yadain fi al-Shalah, kahir al-Kalam fi al-Qiraah khalf imam, al-Asyribah, bir al-walidain, al-Wuhdan, khalq af’al al-Ibad dan al-mabsut.

B. Latarbelakang penulisan al-Jami’ al-Sahih Imam al-Bukhari
Ada tiga faktor yang melatarbelakangi imam al-Bukhari dalam mengumpulkan hadis-hadis al-Nabawi dalam kitab al-Jami’ al-Sahih:
Pertama: belum adanya kitab hadis yang khusus memuat hadis-hadis sahih yang mencakup berbagai bidang dan masalah.
Pada akhir masa tabiin di saat ulama sudah menyebar ke berbagai penjuru negeri, hadis-hadis Nabi sudah mulai di bukukan, orang pertama yang melakukan ini adalah al-Rabi’ bin Shabih (w. 160 H), Said bin Abu Arubah (w. 156 H), yang mana metode penulisan mereka terbatas pada hal-hal tertentu saja, sampai pada akhirnya ulama berikutnya menulis hadis lebih lengkap, mereka menulis hadis-hadis hukum yang cukup luas meskipun tulisan-tulisan mereka masih bercampur dengan fatwa-fatwa sahabat, tabiin, dan tabi’ut al-tabiin, seperti: Imam Malik, Ibn Juraij dan al-Auzai.
Kemudian pada abad ke dua ulama mulai menulis hadis secara tersendiri tanpa dicampuri fatwa-fatwa sahabat maupun tabiin, metode penulisannya berbentuk musnad dimana disebutkan terlebih dahulu nama sahabat kemudian hadis-hadis yang diriwayatkan. Ada pula yang menggabungkan antara metode bab-bab dan metode musnad seperti yang dilakukan Abu Bakar Syaibah. Namun demikian, kitab-kitab tersebut masih bercampur antara yang sahih, hasan dan daif.
Inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan Bukhari atas inisiatifnya dalam mengumpulkan hadis-hadis yang sahih saja yang tercover dalam al-Jami al-Shahih.
Kedua, dorongan sang guru
Terdorong atas saran salah seorang guru beliau yakni Ishaq bin Rahawaih, Imam al-Bukhari mengatakan” ketika aku berada di kediaman Ishaq, beliau menyarankan agar aku menulis kitab yang singkat yang hanya memuat hadis-hadis sahih Rasulullah saw. Imam al-bukhari menjelaskan hubungan anatar permintaan gurunya dan penyusunan kitab Sahihnya:
فوقع في قلبي في جمع الجامع الصحيح
“maka terbesit dalam hatiku, maka mulai saya mengumpulkan al-Jami’ al-Shahih”
ketiga, dorongan hati
Diriwayatkan Muhammad bin Sulaiman bin Faris, Bukhari berkata” aku bermimpi bertemu Rasulullah saw. aku berdiri di hadapannya sambil mengipasinya kemudian aku datang pada ahli ta’bir mimpi untuk menanyakan maksud dari mimpi itu”, ahli ta’bir itu mengatakan bahwa “anda akan membersihkan kebohongan-kebohongan yang dilontarkan pada Rasulullah saw.
Dan untuk ini, imam al-Bukhari mencari karya-karya pada masanya dan sebelumnya guna memilah dan memilih hadis yanng sahih penyandarannya kepada Rasulullah saw.

C. Pengenalan al-jami’ al-Sahih
Imam al-Bukhari meninggalkan sekitar dua puluh karya dalam bidang hadis dan ilmu keislaman lainnya, dan yang paling populer adalah al-jami’ al-sahih.
Kitab ini dinamakan al-Jami’ al-shahih al-Musnad al-Mukhtashar min umuri Rasulillahi shallallahu alaihi wa sallam wa sunanihi wa ayyamihi, yang lebih dikenal dengan Sahih al-Bukhari.
Dilihat dari penamaan yang cukup panjang, maka bisa dipahami, pertama., al-Jami’ yang bemakna kumpulan atau himpunan, dimana kitab tersebut mencakup segala aspek permasalahan yang berkaitan dengan agama baik al-Aqaid, al-Aiman, al-Riqaq, al-fitan, al-Syamail, al-Manaqib, al-Shahabah dan al-Tafsir. kedua, al-Sahih yang bermakna bahwa seluruh hadis yang terdapat dalam sahih al-Bukhary adalah sahih. Ketiga, al-Musnad yang berarti bahwa seluruh hadis sahih tersebut memiliki ketersambungan sanad (ittishal al-Sanad) dari imam al-Bukhari hingga Rasulullah saw. Keempat, Mukhtashar (ringkas) yang berarti bahwa tidak semua hadis sahih diikut sertakan dalam kitab ini. Sesuai denngaann perkataan beliau “tak ada yang kutulis dalam kitab ini melainkan semua adalah hadis sahih, namun hadis-hadis sahih yang tidak kutulis jauh lebih banyak”. Adapun min hadisi Rasulillah sw wa sunanihi wa ayyamihi, bermakna hadis-hadis ini mencakup segala perkataan, perbuatan atau tingkah laku, dan hari-hari yang dijalani Rasulullah saw.
Adapun materi-materi pembahasan yang terkandung dalam kitab ini dapat diklasifikasikan dalam tiga hal; pertama, hadis: merupakan tema sentral. Kedua, Fikih: terlihat jelas dari judul dan sub judul dalam masing-masing topik baik secara eksplisit maupun implisit menjelaskan persoalan hukum. Ketiga, tafsir: imam al-Bukhari sering mengkorelasikan antara ayat-ayat ahkam dengan hadis-hadis ahkam.
Selain tiga hal tersebut, Sahih al-Bukhari juga memuat hadis-hadis yang berkenaan dengan tauhid, peperangan dan sirah Nabi, moral dan etika, zuhud dan lain-lain.
Sahih al-Bukhari dianggap karya pertama yang memuat hadis-hadis sahih saja. Di dalam kitabnya terdapat 97 kitab, 3450 bab, Ada perbedaan pendapat mengenai jumlah hadis yang terdapat dalam Sahih al-Bukhari, Menurut Ibn Shalah dan Imam Nawawi :Imam al-Bukhari menghimpun 7275 hadis termasuk dengan pengulangan, dan 4000 jika tanpa pengulangan. Ibn Hajar mengatakan “hadis musnad muttasil berjumlah 2602 tanpa pengulangan, sedangkan jumlah hadis yang diulang selain yang muallaqat dan mutabaat 7397, jumlah hadis muallaqat 341, jadi seluruhnya jika dijumlahkan 9082 dengan pengulangan.
Beliau menyeleksinya dari 600.000 hadis yang didapatkannya, beliau menghabiskan waktu 16 tahun untuk menyelesaikannya. Lamanya penulisan ini dikarenakan imam al-Bukhari sangat teliti dalam menyeleksi hadis. Ibn Hajar mengatakan, bahkan sebelum menulis satu hadis beliau harus mandi dan shalat istikharah dua rakaat dan yakin benar bahwa hadis yang ditulisnya adalah sahih.
Kitab syarah Shahih Bukhari terlampau banyak, mencapai 82 buah, diantara Syarah Bukhari yang paling popular adalah :
 A’lam as-Sunan, Imam al-Khattabi ( w. 386 H)
 At-Tanqih, Imam Badr al-Deen al-Zarkasyi (w. 794 H)
 Fath al-Bari, Al-Hafiz Ibn Hajar al-asqolani (w. 852 H)
 Umdah al-Qari, Badr ad-din al-‘aini (w. 855H)
 At-Tawsyikh, Al-Hafiz Jalaluddin As-Suyuti (w. 911H)
 Irsyad al-Sari, Ahmad Bin Muhd al-Qastalani (w.923 H)
 Al-Kaukab al-Dirary fi Syarhi al-Bukhari, al-Kirmany (w. 786 H)
 Faidh al-Bari, Muhammad Anwar al-Kisymayri al-Hanafi (w. 1352 H)
 Lami’ al-Dirari karya Rasyid Ahmad

Kitab khusus yang meneliti perawi-perawi di dalam Shahih Bukhari:
 Asma’ Rijal Shahih Bukhari, Ahmad Bin Muhd Al-Kalabazi (398 H)
 At-Ta’dil wa at-Tajrih liman kharaja ‘anhu Bukhari, Al-Hafiz Sulaiman al-Baji (474 H)
 -al-Jam’u bayna rijal al-Shahihain, Abu al-fadhl M. bin Thahir al-Maqdisy
 Fawaid al-Ihtifal fi ahwal al-Rijal al-madzkurin fi al-Bukhari, Ibn Hajar (w. 852 H)
 Rijal sahih al-Bukhari, Al-Kalabadzi (398 H)
 Tarajim Al-Bukhari, Al-Humawi (733 H)
 Man ruwia anhum al-Bukhari, Al-Jurjany (w. 365 H)
 Al-Ta’rif Bi Suyukh al-Bukhari, Abu ali al-Jayany (w. 498 H)
 Al-bayan wa al- taudhih liman ukhrija lahu fi shahih, Abu Zur’ah Al-Iraqi (w. 826 H)
 Qurratul Ain fi dhabt asma rijal al-sahihain, Abdul Ghany Bin Ahmad al-Bahrany’
 Asma Rijal al-Bukhary, Abdul Mu’thi al-Hadrami (w. 989 H)
 al-A’lam bi Akhar al-Bukhary, Gharnathy (w. 634 H)
 Turjuman al-Tarajum ‘ala Abwab al-Bukhari Ibn ‘Umar al-Fahary al-Sabty (w. 721 H)
E. Sistematika penulisan Sahih al-Bukhari
Bukhari menyusun kitab sahihnya berdasarkan sistematika kitab fikih, aqidah, tafsir dan adab. Imam al-Bukhari memulai dengan kitab بكيف بدء الوحي -sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Bulkainy karena ia merupakan sumber kebaikan, syariat dan risalah didasarkan dan dimunculkan, serta iman dan ilmu diketahui.
Sedangkan argumen Abd. Majid Mahmud-bisa jadi pandangan imam al-bukhari dalam memulai dengan “wahyu” kemudian “iman”, sesuatu yang pertama kali dituntut dari seseorang adalah iman, dan unsur ikhlas haruslah terpenuhi dalam iman; justru itulah imam al-Bukhari memulai kitabnya dengan hadis إنما الأعمال بالنيات , dan sesuatu yang pertama kali yang harus diimani adalah wahyu, karena semua tuntunan iman yang disebutkan dalam al-jami’ al-sahihnya tergantung pada keadaan muhammad saw, sebagaimana nabi yang menerima wahyu. kalau persoalan ini sudah diyakini maka seseorang harus mempelajari syariat sampai ia merealisasikannya untuk Tuhannya dan bersifat dengan sifat iman, yang kemudian kitab Tahaharah menempati kitab berikutnya.

Berikut ini penulis tampilkan urutan kitab, jumlah bab dan jumlah hadis pada setiap bab:
No Nama kitab Bab Hadis
1 كتاب بدء الوحي 6 7
2 الإيمان 42 51
3 العلم 52 76
4 الوضوء 75 114
5 الغسل 29 46
6 الحيض 31 39
7 التيمم 9 15
8 الصلاة 109 171
9 مواقيت الصلاة 41 80
10 الأذان 166 272
11 الجمعة 41 66
12 الخوف صلاة 6 6
13 العيدين 26 42
14 الوتر 7 15
15 الإستسقاء 29 35
16 الكسوف 19 27
17 أبواب سجود القرأن وسنتها 12 13
18 تقصيرالصلاة 20 40
19 التهجد 37 68
20 فضل الصلاة في مسجد مكة و المدينة 6 10
21 العمل في الصلاة 18 26
22 السهو 9 14
23 الجنائز 98 157
24 الزكاة 78 120
25 الحج 151 262
26 العمرة 20 33
27 المحصر 10 15
28 جزاء الصيد 27 66
29 فضائل المد ينة 12 24
30 الصوم 69 108
31 صلاة الترويح 1 6
32 فضل ليلة القدر 5 11
33 الاعتكاف 19 24
34 البيوع 113 204
35 السلم 8 18
36 الشفعة 3 3
37 الإجارة 22 27
38 الحوالاة 3 3
39 الكفالة 5 9
40 الوكالة 16 18
41 الحرث و المزارعة 21 31
42 المساقاة 17 31
43 الإستقراض واداء الديون والحجر و التقليس 20 25
44 الخصومات 10 15
45 اللقطة 12 15
46 المظالم و الغصب 35 43
47 الشركة 16 22
48 الرهن 6 8
49 العتق 20 42
50 المكاتب 5 6
51 الهبة وفضلها 37 70
52 الشهادات 30 51
53 الصلح 14 20
54 الشروط 19 24
55 الوصايا 36 44
56 الجهاد و السير 199 251
57 فرض الخمس 20 65
58 الجزية و الموادعة 22 32
59 بدء الخلق 17 135
60 احاديث الانبياء 54 164
61 المناقب 28 130
62 فضائل اصحاب النبى 30 123
63 مناقب الانصار 53 173
64 المغازي 89 510
65 تفسير القران - 491
66 فضائل القران 37 84
67 النكاح 125 184
68 الطلاق 53 98
69 النفقات 16 22
70 الاطعمة 59 95
71 العقيقة 4 8
72 الذبائح و الصيد 38 69
73 الاضاحى 16 30
74 الاشربة 31 64
75 المرضى و الطب 22 38
76 الطب 58 103
77 اللباس 102 186
78 الأداب 18 258
79 الإستئذان 53 76
80 الدعوات 69 108
81 الرقاق 53 181
82 القدر 16 26
83 الأيمان و النذور 33 86
84 كفارات الأيمان 10 15
85 الفرائض 31 49
86 الحدود 42 30
87 الديات 32 58
88 استتابة المرتدين والمعاندين وقتالهم 9 22
89 الإكراه 7 13
90 الحيل 15 29
91 التعبير 48 66
92 الفتن 28 82
93 الأحكام 53 88
94 التمنى 9 20
95 أخبار الأحاد 6 22
96 الإعتصام بالكتاب و السنة 28 113
97 التوحيد 58 193
Imam al-Bukhari dalam menyusun kitab sahihnya tidak hanya mengklasifikasikan beberapa Judul (kitab) tetapi beliau juga membagi judul-Judul (kitab-Kitab) tersebut dalam beberapa bagian bab yang mana mempunyai korelasi dan kesesuaian. pada setiap bab dicantumkan satu hadis atau lebih, Contoh: al-Bukhari memberikan tema (judul besar) yang disebutnya kitab, كتاب الفرائد yang dibagi dalam 15 pasal yang disebutnya bab, seperti:
باب قول تعالى (يوصيكم الله في أولادكم للذكر مثل حظ الأنثيين), باب تعليم الفرائض, باب قول النبي صلى الله عليه وسلم :( لا نورث ماتركنا صدقة) dan seterusnya.
Sementara itu dalam sahih al-Bukhari, penulis sering kali mendapati pencantuman satu hadis yang sama dalam beberapa tempat
Contoh: al-Bukhari menempatkan إِنَّمَا الْأَعْمَالُ, beliau menyebutkan 7 kali dalam kitabnya:
Tempat pertama: dalam كبف كان بدء الوحي (bagaimana wahyu mulai diturunkan pada Rasulullah saw, dia berkata:
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Tempat kedua:dalam “ ” كتاب الإيمان : باب ماجاء أن الأعمال بالنية
حَدَّثَنَا عبد الله بن مسلمة قال: أخبرنا مالك عن يحيى بن سعيد عن محمد بن إبرهيم عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيِّ عن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الأْعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلكل إمْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Tempat ketiga: dalam كتاب العتق: باب الخطاء والنسيان في العتاقة لا عتاقة إلا لوجه الله
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الاَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ولامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Tempat keempat: dalam باب مناقب الأنصار:باب هجرة النبي صلىالله عليه وسلم وأصحابه إلى المدينة
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ هُوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ يَحْيَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Tempat kelima: dalamكتاب النكاح: باب من هاجر او عمل خيرا لتزويج امراة فله مانوى
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ قَزَعَةَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَمَلُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Tempat keenam: dalam كتاب الإيمان والنذور:باب النية في الإيمان
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ يَقُولُ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Tempat ketujuh: dalam باب ترك الحيل, وأن لكل امرئ مانوى في الأيمان وغيرها
حَدَّثَنَا أبو النعمان حَدَّثَنَا حماد بن زيد عن يحيى بن سعيد عن محمد بن إبرهيم عن علقمة بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ قُالُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُم, يخطب, قُالُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُول:ُ ياأيها الناس!إِنَّمَا الأعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ هاجر إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Imam al-Bukhari sering mengulang hadis dalam al-Jami’ al-shahih lebih dari sepuluh tempat, demikian itu ada beberapa alasan:
Pertama: Imam al-Bukhari tidak akan mengulang hadis kecuali jika hadis tersebut mengandung faedah dalam sanad, semisal: imam al-Bukhari meriwayatkan hadis dari sahabat, kemudian menyebutkan hadis yang sama dengan sahabat yang berbeda guna menjelaskan yang gharib atau juga menguatkan hadis dengan shighat العنعنة dipaparkan kembali di tempat lain dengan sanad berbeda dan menggunakan sighat السماع .
Kedua: Imam al-Bukhari terkadang mengulang hadis pada bab yang sama, dan terkadang dalam bab yang lain, dan kadang imam al-Bukhari mengulang hadis dalam kitab yang lain pada Jami’ al-Sahih.
Imam al-Bukhari juga dalam beberapa hadis membuang sanad hadis tersebut, misalkan قال مالك عن نافع عن أبي عمر كذا… , ada sanad yang terputus (tidak disebut) antara imam al-Bukhari dan imam Malik. Menurut ibn Hajar adanya hadis muallaq dalam Sahih al-Bukhari bukanlah dalam hadis pokok, dan imam al-Bukhari hanya berusaha memaparkan adanya tabi’ dan syahid, karena menurut ibn hajar dengan melihat judul kitab yang imam al-bukhari berikan, kitab ini hanya meriwayatkan hadis sahih di dalamnya.
sedikit catatan, ada sejumlah kitab yang tidak memuat bab, ada pula sejumlah bab yang berisi banyak hadis tetapi ada pula hanya berisi beberapa hadis saja, bahkan ada pula bab yang hanya berisi ayat-ayat al-quran tanpa disertai hadis, bahkan ada yang kosong tanpa isi.

D. Kriteria kesahihan hadis menurut Imam al-Bukhari
Para ulama hadis sepakat mensyaratkan hadis dinilai sahih ketika diriwayatkan dengan sanad yang bersambung pada Nabi Muhammad saw oleh rawi-rawi yang adil (jujur dan Taqwa) dan Dhabit (kuat ingatannya), tidak ada illat (cacat) dan Syadz (kejanggalan) . dalam menentukan “sanad bersambung kepada Nabi Muhammad saw” ulama mensyaratkan adanya kemungkinan bertemu antara perawi pertama dan perawi kedua karena hidup satu masa- begitu seterusnya. Apabila antara murid dan guru ada kemungkinan bertemu, ahli hadis menilai sanad itu bersambung meskipun keduanya tidak pernah bertemu sama sekali.
Imam al-Bukhari memang tidak menentukan secara eksplisit kriteria atau persyaratan standar bagi sahihnya suatu hadis, namun ulama hadis telah berupaya meneliti beberapa yang diduga kuat merupakan pedoman imam al-Bukhari.
Disamping persyaratan di atas, ternyata imam al-Bukhari tidak cukup dengan kesejamanan (Mu’asharah) perawi dengan gurunya, tetapi mengharuskan adanya pertemuan antara keduanya, meski hanya sekali, karena alasan inilah para ulama mengatakan, Imam al-Bukhari memiliki dua syarat yaitu Muasharah dan liqa’ (bertemu perawi dengan gurunya). Hal inilah yang membedakannya dengan kriteria imam Muslim dimana beliau hanya mensyaratkan muasharah tanpa harus liqa”
Syarat imam al-Bukhari lainnya mengenai para perawi (rijal), dari hasil penelitian yang dilakukan oleh ulama abad ke enam hijriyyah yakni imam Hazami dan Maqdisi tentang kriteria hadis sahih menurut imam al-Bukhari bahwasanya imam al-Bukhari hanya menuliskan hadis-hadis dari periwayat thabaqah pertama dan sedikit dari tingkat kedua itupun dengan penyeleksian terlebih dahulu, sedangkan tingkat berikutnya Bukhari tidak menggunakannya, hal tersebut bisa disimpulkan dari penelitian terhadap murid-murid al-Zuhri, bahwa murid al-Zuhri dapat dibagi menjadi lima tingkatan, tingkat pertama adalah yang diakui ketsiqahannya dan lama bersama gurunya, tingkat kedua mereka yang mempunyai sifat yang sama tapi tidak lama berguru dengan al-Zuhri, tingkat ketiga adalah mereka yang dikenal ke-dhabt- annya dan lama bersama gurunya, tingkat keempat sama dengan tingkat ketiga namun tidak lama bersama gurunya dan kelima mereka yang majruh dan lemah.

F. Metodologi penyusunan kitab dan bab sahih al-Bukhari
Adapun metodologi yang digunakan dalam penulisan kitab, khususnya dalam penempatan dan penggunaan tarjamah kitab (judul-judul bab), imam al-Bukhari mengklasifikasikannya menjadi tiga bentuk:
Pertama, al-Tarjamah al-Dzahirah (jelas), judul bab tersebut menggambarkan hadis tersebut dengan dilalah (semantik) yang jelas dari hadis-hadis itu sendiri, baik penyusunannya menggunakan shighat khabariyyah seperti : باب فرض صدقة الفطر , atau juga dengan sighat istifham seperti: هل على من لم يشهد الجمعة غسل من النساء و الصبيان وغيرهم
Dalam al-Jami’ al-sahihnya al-Bukhari menggunakan sighat khabariyyah dalam permasalahan yang sudah mendapat legitimasi hukum dan kesepakatan ulama dari para ulama, namun terhadap permasalahan-permasalahan yang mengandung kontraversi, beliau menggunakan sighat istifhamiyyah.
kedua, tarjamah al-Istinbathiyyah, penggunaan judul bab yang tidak dapat dipahami pembaca sejauhmana kaitannya dengan hadis yanng dimaksud, disini dibutuhkan kemampuan untuk mengkorelasikan antara susunan bab dengan hadis, dibutuhkan proses berfikir dan penelitian yang intensif. Misalnya:
“bab mengenai barang siapa melihat qadhi menetapkan sesuatu perkara manusia berdasarkan pengetahuannya…) kemudian imam al-Bukhari menyebutkan hadis Aisyah mengenai istri Abu Sufyan yang mengatakan bahwa” sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang lelaki yang bakhil, apakah berdosa bagiku jika aku memberi makan anak-anak yang menjadi tanggung jawab kami dengan hartanya? Kemudian Rasulullah bersabda: tidak ada dosa bagimu karena memberi mereka makan dari harta yang baik. Dari sini imam al-Bukhari menarik beberapa kesimpulan diantaranya bahwa jawaban rasulullah menunjukkan bahwa ini merupakan persoalan yang berlaku di masyarakat, dan ditetapkan rasulullah berdasarkan pengetahuannya, bukan atas dalil atau ketetapan hukum tertentu. Ini boleh dalam persoalan-persoalan sosial, bukan dalam masalah hudud dan qisas.
Ketiga, tarjamah al-Mursalah, penggunaan judul bab yang bersifat mutlak (tidak terikat), dengan kalimat atau kata tertentu, misalkan pencantuman dalam “(bab)” saja tidak ada tambahan sesuatupun. Tarjamah seperti ini digunakan al-Bukhari apabila bab tersebut masih merupakan bagian dari bab sebelumnya, atau bisa dikatakan pasal dari bab tersebut, atau bisa juga bab tersebut memiliki cakupan yang luas yang berkaitan dengan judul atau bagian bab pembahasan yang telah terklasifikasi dalam beberapa bab.

G. Posisi dan pendapat ulama mengenai Sahih al-Bukhari
Ghalib diketahui, Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim merupakan kitab paling sahih setelah al-Quran, meskipun Sahih al-Bukhari berada diatas kitab sahih muslim ditinjau dari kesahihannya.
Berbicara mengenai al-jami’ al-sahih, banyak komentar-komentar ulama yang berbicara mengenai kesahihan dan kelebihan kitab ini. Al-Marwazy mengatakan “ketika ia tertidur dekat makam Rasulullah saw, dan ia melihat Rasulullah dalam mimipi dan mengatakan: “wahai Abu zaid! Sampai kapan kamu mempelajari al-Syafi’I, dan apa yang kamu pelajari dari kitabku?” abu Zaid lalu bertanya: apa kitabmu wahai Rasulullah? “Rasulullah menjawab: Jami’ Muhammad ibn Ismail al-Bukhari.
Al-Nasai mengatakan bahwa: sebaik-baik kitab adalah kitab imam al-Bukhari. Al-Dahlawy juga mengatakan: kedua kitab sahih ini, ahli hadis telah berpendapat bahwa hadis-hadis muttasil marfu’ pasti berkualitas sahih, dan kedua kitab ini, secara mutawatir kita terima dari penyusunnya. Siapa yang meremehkan kedua kitab tersebut berarti telah berbuat bidah.

Penutup
Melihat sosok Imam al-Bukhari dan menilik karya-karya yang beliau hasilkan, membuat kita semakin kecil dihadapannya. Betapa besar niat dan usaha beliau untuk memperkenalkan dan menjaga hadis-hadis nabi saw sehingga bisa sampai dan diamalkan oleh seluruh umat muslim di dunia.
Terlepas dari pujian maupun kritikan yang dilontaran atas beliau, tetap tidak akan pernah mempengaruhi atau bahkan memperkecil sosok dan peran imam al-Bukhari dalam perkembangan hadis.

Peta
Rihlah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah al-Bukhari (194-256 H/810-870 M)

Referensi:
M. Kyeir al-Sya’al, Lamhat fi A’lami al-Muhaddisin wa Manahijihim, Jeddah; Saudi Arabia, 1982

Abu tayyeb al-Sayed shiddiq Hasan al-Qanujy, al-Hithtah fi dzikr al-Shihhah al-sittah, Beirut: Dar al-Kutub, 1985.

Haji Khalifah, Kasyf al-Zunun an Asami al-Kutub wa al-Mutun, (Beirut: Dar al-Ulum al-Haditsah, tth)

Ibn Hajar al-Asqalany, al-Hady al-Sary, Muqaddimah fath al-Bary Syarah shahih al-Bukhari,(beirut: Dar al-Fikr.

Al-Imam al-Bukhary, Shahih al-Bukhary: Maushuah al-sunnah wa Syuruhuha, (dar al-Dakwah: Istanbul, 1992

Dr Akram dhiya’ al-Umri, Buhuts Tarikh al-Sunnah al-Musyrifah, (Beirut:Muassasah al-risalah, 1975 M)

Dr. Muhammad Mubarak, Manahij al-Muhadditsin, (al-Azhar:Dar al-thaba’ah al-Muhammadiyyah, 1984 M),

Jalaluddin al-suyuthi, Tahabaqah al-Huffadz, (Beirut: dar al-Kutub, 1985)

Dr. Tsauqi Abu Khalil, Athlas al-Hadis al-Nabawi, (Beirut: Dar al-Fikt al-Ma’ashir,2003)
M. ibn Alawy al-malaky al-Hasany, al-Manhal al-latif fi Ushul al-Hadis al-Syarif, (Jeddah: Mathba’ah al-sahr, 1982). Muhammad Khair al-Syual, lamhat fi A’lam al-Muhadditsin wa manahijihim fi al- kutub al-Sittah, (tth)

Ibn Hajr al-Asqalani, Hadi al-Sary, (al-Qahirah: dar al-Manar, 1999), h.6-7, Dr. al-Zahrani, Tadwin al-Sunnah al-Nabawiyyah Nasy’atuhu wa Tathawuruhu min al-Qarni al-Awal ila Nihayah al-Qarni al-Tasi’ al-Hijri,( al-Madinah al-Munawwarah: Dar al-Khudayry, 1998)

al-Hazimy, Syuruth al-Aimmat al-Khamsah, (Kairo: Maktabah Athif, tth)

Maqsdisy, al-Kutub al-Shahhah al-Sitta, (Kairo: Maktabah Athif, (tth)

Dr. Hasan muhammad Maqbul, Mushthalah al-Hadis wa rijaluhu, (Shan’a: Maktabah al-Jayyid al-Jadid, 1988)

al-Zarkasy, al-Ijabat li Irad ma Istadrakathhu Aisyah alaa Shahabah, (Beirut: al-Maktab al-Islamy, 1980 M)

Ibn Hajar al-asqalany, Syarh al-Nukhbah ; Nuzhah al-Nazhri fi Taudhih Nukhbah al-Fikr bi tahqiq Nuruddin Itr, ( Damsik: Mathba’ah al-Shabah, 2000), h. 58
H. Ali Musthafa yakub, Imam al-Bukhari dan metodologi kritik dalam Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996)

Ajjaj al-Khatib, Penj. Ushul al-Hadits: pokok Ilmu Hadis , (Jakarta: Gema Media Pratama, tth)

M. Abu Syuhbah, Fi Rihab al-Sunnah al-Kutub al-Sittah, (Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah, 1969)

Ahmad Umar Hasyim, Mabahits fi al-Hadis al-Syarifah-Qahirah: Maktabah al-Syuruq, 2000)

Manhaj Imam al-Bukhari dalam kitab al-Jami’ al-Sahih
(Diterbitkan di Jurnal Hermenetik STAIN Kudus Fak. Ushuluddin Tafsir Hadis V. III)
B Pendahuluan
Sejarah telah mencatat sekian banyak ulama yang berupaya dalam menghimpun hadis sesuai keadaan zaman masing-masing dan melakukan kajian terhadap masalah yang berhubungan dengan hadis, diantaranya adalah Imam al-Bukhari sebagaimana dikenal umat Islam sebagai tokoh hadis yang tidak hanya terkenal karena kehebatan dan kecerdasannya, tetapi juga masyhur karena karya besarnya yang lebih dikenal dengan Sahih al-Bukhari.
Shahih al-Bukhari merupakan karya hadis monumental yang diakui kesahihannya. Dipopulerkan Ibn shalah dan diikuti Imam Nawawi bahwasanya Shahih al-Bukhari merupakan kitab yang paling otentik sesudah al-Quran. dan sepertinya pendapat itu masih relevan sampai sekarang.
Penulis mencoba memotret sosok imam al-Bukhari meliputi: profil Imam al-Bukhari, kandungan dan metode penulisan al-Jami’ al-Shahih, dan kritetia apa yang digunakan Imam al-Bukhari dalam menyeleksi hadis-hadisnya.

A. Biografi Bukhari
Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim Ibn Mughirah ibn Bardizbah al-ju’fi Bukhari . Lahir pada hari jum’at 13 syawal 194 H di Bukhara, dan meninggal pada tanggal 30 Ramadhan 256 H.
Ayahnya bernama Ismail bin Ibrahim al-Ju’fi , ayahnya adalah seorang peminat hadis, ketika ismail berhaji ke Makkah pada tahun 179 H beliau menyempatkan diri menemui tokoh-tokoh hadis seperti Imam Malik bin Anas, Abdullah bin al-Mubarak, Abu Muawiyah bin Shalih. Diantara yang meriwayatkan hadis darinya: Ahmad ibn ja’far, nashr ibn al-Husein, Ahmad ibn Hafs. Menjelang wafat, beliau mengatakan “tak sepersepun dari hartaku bercampur dengan barang subhat”
Di saat usianya belum genap sepuluh tahun, imam al-Bukhari telah mulai belajar hadis, diceritakan seseorang bernama sufyan membacakan sebuah hadis yang diriwayatkan Abi al-Zubeir dari Ibrahim, imam al-Bukhari menyelanya dan mengatakan”ini adalah salah” Abi al-Zubeir tidak pernah meriwayatkan hadis dari Ibrahim, tapi Zubeir ibn Adi yang meriwayatkannya dari Ibrahim, kemudian Sufyan cek ulang dalam buku aslinya, ternyata imam al-Bukhari benar adanya.
Ketika usia imam al-Bukhari menginjak enam belas tahun beliau telah menghapal matan sekaligus rawi dari beberapa kitab karangan Ibn Mubarak dan Waqi. Kemudian beliau menunaikan ibadah haji bersama ibu dan kakaknya, dan menetap disana. Imam al-Bukhari menjumpai guru-guru hadis di berbagai negeri, beliau pergi ke Makkah al-Mukarromah untuk berguru pada Imam al-Humaydy selama tujuh tahun, kemudian dilanjutkan ke Madinah beliau berguru pada Makki ibn Ibrahim (w.214 H) dan disini pula beliau menulis dua karya: Qadhaya al-Shahabah wa al-Tabi’in dan Tarikh Kabir yang ditulis disamping makam Rasulullah saw. Di Nishapur beliau belajar dari yahya ibn Yahya al-Naisabury (w. 226H), Basyar ibn al-Hakam dan Ishaq, di Baghdad beliau berguru pada Syuraih ibn al-Nu’man dan Affan,di Merv beliau belajar dari Ali ibn al-Hasan ibn Syaqiq dan Abdan abu M. al-Marwazi (w. 220 H), di Ray beliau belajar dari Ibrahim bin Musa al-Hafiz, di Basrah beliau berguru pada Abi ‘Ashim al-Nabil, di Kufah beliau berguru pada Ubaidillah bin Musa, di Syam beliau berguru pada Abu al-Mughirah al-Firyabi, di Asqalan beliau berguru pada Adam. Di daerah-daerah itulah Imam al-Bukhari banyak berguru kepada ahli hadis, beliau mengatakan “aku menulis hadis dari 1080 guru yang semuanya adalah ahli hadis diantaranya adalah Ali ibn al-Madini, Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Ma’in, Muhammad ibn yusuf al-Firyabi dan Ibn Ruhawaih.
Ibn Hajar dalam al-Hady al-sary mengatakan bahwa guru-guru imam al-Bukhari berjumlah sekitar 1080 dan semuanya adalah ahli hadis. Sedangkan murid-muridnya berjumlah sekitar 90.000 orang. Diantaranya: imam Muslim, al-Turmudzi, al-Nasai, al-Darimy, Ibn Khuzaimah, Abu Zur’ah, Abu Hatim, dan Mansur ibn Muhammad al-Bazdawy adalah murid terakhir yang meriwayatkan dari beliau.
Perjalanan imam al-Bukhari dalam mencari hadis di mulai sejak 210 H, dari puluhan kota yang beliau kunjungi, sekitar 600.000 hadis telah beliau dapatkan.
Imam al-Bukhari berhasil menghapal seratus ribu hadis sahih dan dua ratus ribu hadis yang tidak shahih, beliau adalah ulama yang memiliki ilmu yang sangat luas dalam bidang hadis, imam al-Bukhari tidak hanya seorang pelajar yang cerdas, namun juga produktif, disamping belajar beliau juga menghasilkan banyak karya.
Para ulama telah memberikan kesaksian atas keilmuan dan kuatnya hapalan imam al-Bukhari, diriwayatkan oleh Ahmad ibn Adi al-Hafidz, Abu Abdillah al-Humaydi dalam kitab Jadzwah fi al Muqtabis, dan Khatib al-Baghdady dalam Tarikh Baghdad.
Pada usianya yang ke 62, imam al-Bukhari kembali menetap di Bukhara, pergi ke desa Khartank di kawasan Samarqand untuk menjenguk saudaranya yang bernama Ghalib bin Jibril, disinilah beliau wafat tepat pada hari sabtu, malam Idul Fitri 1 syawal 256 H 9870 M) . sedangkan menurut riwayat lain menngatakan beliau wafat pada malam selasa 256 H.
Diantara karya-karya beliau: al-Tarikh al-Kabir, al-tarikh al-Ausath, al-tarikh al-saghir, al-Dhuafa’ al-Shaghir, al-Musnad al-Kabir, al-Tafsir al-Kabir, kitab al-Hibah, kitab al-Ilal, al-Adab al-Mufrad, kitab al-Aqidah wa al-Tauhid, al-Kuna, Raf’a yadain fi al-Shalah, kahir al-Kalam fi al-Qiraah khalf imam, al-Asyribah, bir al-walidain, al-Wuhdan, khalq af’al al-Ibad dan al-mabsut.

B. Latarbelakang penulisan al-Jami’ al-Sahih Imam al-Bukhari
Ada tiga faktor yang melatarbelakangi imam al-Bukhari dalam mengumpulkan hadis-hadis al-Nabawi dalam kitab al-Jami’ al-Sahih:
Pertama: belum adanya kitab hadis yang khusus memuat hadis-hadis sahih yang mencakup berbagai bidang dan masalah.
Pada akhir masa tabiin di saat ulama sudah menyebar ke berbagai penjuru negeri, hadis-hadis Nabi sudah mulai di bukukan, orang pertama yang melakukan ini adalah al-Rabi’ bin Shabih (w. 160 H), Said bin Abu Arubah (w. 156 H), yang mana metode penulisan mereka terbatas pada hal-hal tertentu saja, sampai pada akhirnya ulama berikutnya menulis hadis lebih lengkap, mereka menulis hadis-hadis hukum yang cukup luas meskipun tulisan-tulisan mereka masih bercampur dengan fatwa-fatwa sahabat, tabiin, dan tabi’ut al-tabiin, seperti: Imam Malik, Ibn Juraij dan al-Auzai.
Kemudian pada abad ke dua ulama mulai menulis hadis secara tersendiri tanpa dicampuri fatwa-fatwa sahabat maupun tabiin, metode penulisannya berbentuk musnad dimana disebutkan terlebih dahulu nama sahabat kemudian hadis-hadis yang diriwayatkan. Ada pula yang menggabungkan antara metode bab-bab dan metode musnad seperti yang dilakukan Abu Bakar Syaibah. Namun demikian, kitab-kitab tersebut masih bercampur antara yang sahih, hasan dan daif.
Inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan Bukhari atas inisiatifnya dalam mengumpulkan hadis-hadis yang sahih saja yang tercover dalam al-Jami al-Shahih.
Kedua, dorongan sang guru
Terdorong atas saran salah seorang guru beliau yakni Ishaq bin Rahawaih, Imam al-Bukhari mengatakan” ketika aku berada di kediaman Ishaq, beliau menyarankan agar aku menulis kitab yang singkat yang hanya memuat hadis-hadis sahih Rasulullah saw. Imam al-bukhari menjelaskan hubungan anatar permintaan gurunya dan penyusunan kitab Sahihnya:
فوقع في قلبي في جمع الجامع الصحيح
“maka terbesit dalam hatiku, maka mulai saya mengumpulkan al-Jami’ al-Shahih”
ketiga, dorongan hati
Diriwayatkan Muhammad bin Sulaiman bin Faris, Bukhari berkata” aku bermimpi bertemu Rasulullah saw. aku berdiri di hadapannya sambil mengipasinya kemudian aku datang pada ahli ta’bir mimpi untuk menanyakan maksud dari mimpi itu”, ahli ta’bir itu mengatakan bahwa “anda akan membersihkan kebohongan-kebohongan yang dilontarkan pada Rasulullah saw.
Dan untuk ini, imam al-Bukhari mencari karya-karya pada masanya dan sebelumnya guna memilah dan memilih hadis yanng sahih penyandarannya kepada Rasulullah saw.

C. Pengenalan al-jami’ al-Sahih
Imam al-Bukhari meninggalkan sekitar dua puluh karya dalam bidang hadis dan ilmu keislaman lainnya, dan yang paling populer adalah al-jami’ al-sahih.
Kitab ini dinamakan al-Jami’ al-shahih al-Musnad al-Mukhtashar min umuri Rasulillahi shallallahu alaihi wa sallam wa sunanihi wa ayyamihi, yang lebih dikenal dengan Sahih al-Bukhari.
Dilihat dari penamaan yang cukup panjang, maka bisa dipahami, pertama., al-Jami’ yang bemakna kumpulan atau himpunan, dimana kitab tersebut mencakup segala aspek permasalahan yang berkaitan dengan agama baik al-Aqaid, al-Aiman, al-Riqaq, al-fitan, al-Syamail, al-Manaqib, al-Shahabah dan al-Tafsir. kedua, al-Sahih yang bermakna bahwa seluruh hadis yang terdapat dalam sahih al-Bukhary adalah sahih. Ketiga, al-Musnad yang berarti bahwa seluruh hadis sahih tersebut memiliki ketersambungan sanad (ittishal al-Sanad) dari imam al-Bukhari hingga Rasulullah saw. Keempat, Mukhtashar (ringkas) yang berarti bahwa tidak semua hadis sahih diikut sertakan dalam kitab ini. Sesuai denngaann perkataan beliau “tak ada yang kutulis dalam kitab ini melainkan semua adalah hadis sahih, namun hadis-hadis sahih yang tidak kutulis jauh lebih banyak”. Adapun min hadisi Rasulillah sw wa sunanihi wa ayyamihi, bermakna hadis-hadis ini mencakup segala perkataan, perbuatan atau tingkah laku, dan hari-hari yang dijalani Rasulullah saw.
Adapun materi-materi pembahasan yang terkandung dalam kitab ini dapat diklasifikasikan dalam tiga hal; pertama, hadis: merupakan tema sentral. Kedua, Fikih: terlihat jelas dari judul dan sub judul dalam masing-masing topik baik secara eksplisit maupun implisit menjelaskan persoalan hukum. Ketiga, tafsir: imam al-Bukhari sering mengkorelasikan antara ayat-ayat ahkam dengan hadis-hadis ahkam.
Selain tiga hal tersebut, Sahih al-Bukhari juga memuat hadis-hadis yang berkenaan dengan tauhid, peperangan dan sirah Nabi, moral dan etika, zuhud dan lain-lain.
Sahih al-Bukhari dianggap karya pertama yang memuat hadis-hadis sahih saja. Di dalam kitabnya terdapat 97 kitab, 3450 bab, Ada perbedaan pendapat mengenai jumlah hadis yang terdapat dalam Sahih al-Bukhari, Menurut Ibn Shalah dan Imam Nawawi :Imam al-Bukhari menghimpun 7275 hadis termasuk dengan pengulangan, dan 4000 jika tanpa pengulangan. Ibn Hajar mengatakan “hadis musnad muttasil berjumlah 2602 tanpa pengulangan, sedangkan jumlah hadis yang diulang selain yang muallaqat dan mutabaat 7397, jumlah hadis muallaqat 341, jadi seluruhnya jika dijumlahkan 9082 dengan pengulangan.
Beliau menyeleksinya dari 600.000 hadis yang didapatkannya, beliau menghabiskan waktu 16 tahun untuk menyelesaikannya. Lamanya penulisan ini dikarenakan imam al-Bukhari sangat teliti dalam menyeleksi hadis. Ibn Hajar mengatakan, bahkan sebelum menulis satu hadis beliau harus mandi dan shalat istikharah dua rakaat dan yakin benar bahwa hadis yang ditulisnya adalah sahih.
Kitab syarah Shahih Bukhari terlampau banyak, mencapai 82 buah, diantara Syarah Bukhari yang paling popular adalah :
 A’lam as-Sunan, Imam al-Khattabi ( w. 386 H)
 At-Tanqih, Imam Badr al-Deen al-Zarkasyi (w. 794 H)
 Fath al-Bari, Al-Hafiz Ibn Hajar al-asqolani (w. 852 H)
 Umdah al-Qari, Badr ad-din al-‘aini (w. 855H)
 At-Tawsyikh, Al-Hafiz Jalaluddin As-Suyuti (w. 911H)
 Irsyad al-Sari, Ahmad Bin Muhd al-Qastalani (w.923 H)
 Al-Kaukab al-Dirary fi Syarhi al-Bukhari, al-Kirmany (w. 786 H)
 Faidh al-Bari, Muhammad Anwar al-Kisymayri al-Hanafi (w. 1352 H)
 Lami’ al-Dirari karya Rasyid Ahmad

Kitab khusus yang meneliti perawi-perawi di dalam Shahih Bukhari:
 Asma’ Rijal Shahih Bukhari, Ahmad Bin Muhd Al-Kalabazi (398 H)
 At-Ta’dil wa at-Tajrih liman kharaja ‘anhu Bukhari, Al-Hafiz Sulaiman al-Baji (474 H)
 -al-Jam’u bayna rijal al-Shahihain, Abu al-fadhl M. bin Thahir al-Maqdisy
 Fawaid al-Ihtifal fi ahwal al-Rijal al-madzkurin fi al-Bukhari, Ibn Hajar (w. 852 H)
 Rijal sahih al-Bukhari, Al-Kalabadzi (398 H)
 Tarajim Al-Bukhari, Al-Humawi (733 H)
 Man ruwia anhum al-Bukhari, Al-Jurjany (w. 365 H)
 Al-Ta’rif Bi Suyukh al-Bukhari, Abu ali al-Jayany (w. 498 H)
 Al-bayan wa al- taudhih liman ukhrija lahu fi shahih, Abu Zur’ah Al-Iraqi (w. 826 H)
 Qurratul Ain fi dhabt asma rijal al-sahihain, Abdul Ghany Bin Ahmad al-Bahrany’
 Asma Rijal al-Bukhary, Abdul Mu’thi al-Hadrami (w. 989 H)
 al-A’lam bi Akhar al-Bukhary, Gharnathy (w. 634 H)
 Turjuman al-Tarajum ‘ala Abwab al-Bukhari Ibn ‘Umar al-Fahary al-Sabty (w. 721 H)
E. Sistematika penulisan Sahih al-Bukhari
Bukhari menyusun kitab sahihnya berdasarkan sistematika kitab fikih, aqidah, tafsir dan adab. Imam al-Bukhari memulai dengan kitab بكيف بدء الوحي -sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Bulkainy karena ia merupakan sumber kebaikan, syariat dan risalah didasarkan dan dimunculkan, serta iman dan ilmu diketahui.
Sedangkan argumen Abd. Majid Mahmud-bisa jadi pandangan imam al-bukhari dalam memulai dengan “wahyu” kemudian “iman”, sesuatu yang pertama kali dituntut dari seseorang adalah iman, dan unsur ikhlas haruslah terpenuhi dalam iman; justru itulah imam al-Bukhari memulai kitabnya dengan hadis إنما الأعمال بالنيات , dan sesuatu yang pertama kali yang harus diimani adalah wahyu, karena semua tuntunan iman yang disebutkan dalam al-jami’ al-sahihnya tergantung pada keadaan muhammad saw, sebagaimana nabi yang menerima wahyu. kalau persoalan ini sudah diyakini maka seseorang harus mempelajari syariat sampai ia merealisasikannya untuk Tuhannya dan bersifat dengan sifat iman, yang kemudian kitab Tahaharah menempati kitab berikutnya.

Berikut ini penulis tampilkan urutan kitab, jumlah bab dan jumlah hadis pada setiap bab:
No Nama kitab Bab Hadis
1 كتاب بدء الوحي 6 7
2 الإيمان 42 51
3 العلم 52 76
4 الوضوء 75 114
5 الغسل 29 46
6 الحيض 31 39
7 التيمم 9 15
8 الصلاة 109 171
9 مواقيت الصلاة 41 80
10 الأذان 166 272
11 الجمعة 41 66
12 الخوف صلاة 6 6
13 العيدين 26 42
14 الوتر 7 15
15 الإستسقاء 29 35
16 الكسوف 19 27
17 أبواب سجود القرأن وسنتها 12 13
18 تقصيرالصلاة 20 40
19 التهجد 37 68
20 فضل الصلاة في مسجد مكة و المدينة 6 10
21 العمل في الصلاة 18 26
22 السهو 9 14
23 الجنائز 98 157
24 الزكاة 78 120
25 الحج 151 262
26 العمرة 20 33
27 المحصر 10 15
28 جزاء الصيد 27 66
29 فضائل المد ينة 12 24
30 الصوم 69 108
31 صلاة الترويح 1 6
32 فضل ليلة القدر 5 11
33 الاعتكاف 19 24
34 البيوع 113 204
35 السلم 8 18
36 الشفعة 3 3
37 الإجارة 22 27
38 الحوالاة 3 3
39 الكفالة 5 9
40 الوكالة 16 18
41 الحرث و المزارعة 21 31
42 المساقاة 17 31
43 الإستقراض واداء الديون والحجر و التقليس 20 25
44 الخصومات 10 15
45 اللقطة 12 15
46 المظالم و الغصب 35 43
47 الشركة 16 22
48 الرهن 6 8
49 العتق 20 42
50 المكاتب 5 6
51 الهبة وفضلها 37 70
52 الشهادات 30 51
53 الصلح 14 20
54 الشروط 19 24
55 الوصايا 36 44
56 الجهاد و السير 199 251
57 فرض الخمس 20 65
58 الجزية و الموادعة 22 32
59 بدء الخلق 17 135
60 احاديث الانبياء 54 164
61 المناقب 28 130
62 فضائل اصحاب النبى 30 123
63 مناقب الانصار 53 173
64 المغازي 89 510
65 تفسير القران - 491
66 فضائل القران 37 84
67 النكاح 125 184
68 الطلاق 53 98
69 النفقات 16 22
70 الاطعمة 59 95
71 العقيقة 4 8
72 الذبائح و الصيد 38 69
73 الاضاحى 16 30
74 الاشربة 31 64
75 المرضى و الطب 22 38
76 الطب 58 103
77 اللباس 102 186
78 الأداب 18 258
79 الإستئذان 53 76
80 الدعوات 69 108
81 الرقاق 53 181
82 القدر 16 26
83 الأيمان و النذور 33 86
84 كفارات الأيمان 10 15
85 الفرائض 31 49
86 الحدود 42 30
87 الديات 32 58
88 استتابة المرتدين والمعاندين وقتالهم 9 22
89 الإكراه 7 13
90 الحيل 15 29
91 التعبير 48 66
92 الفتن 28 82
93 الأحكام 53 88
94 التمنى 9 20
95 أخبار الأحاد 6 22
96 الإعتصام بالكتاب و السنة 28 113
97 التوحيد 58 193
Imam al-Bukhari dalam menyusun kitab sahihnya tidak hanya mengklasifikasikan beberapa Judul (kitab) tetapi beliau juga membagi judul-Judul (kitab-Kitab) tersebut dalam beberapa bagian bab yang mana mempunyai korelasi dan kesesuaian. pada setiap bab dicantumkan satu hadis atau lebih, Contoh: al-Bukhari memberikan tema (judul besar) yang disebutnya kitab, كتاب الفرائد yang dibagi dalam 15 pasal yang disebutnya bab, seperti:
باب قول تعالى (يوصيكم الله في أولادكم للذكر مثل حظ الأنثيين), باب تعليم الفرائض, باب قول النبي صلى الله عليه وسلم :( لا نورث ماتركنا صدقة) dan seterusnya.
Sementara itu dalam sahih al-Bukhari, penulis sering kali mendapati pencantuman satu hadis yang sama dalam beberapa tempat
Contoh: al-Bukhari menempatkan إِنَّمَا الْأَعْمَالُ, beliau menyebutkan 7 kali dalam kitabnya:
Tempat pertama: dalam كبف كان بدء الوحي (bagaimana wahyu mulai diturunkan pada Rasulullah saw, dia berkata:
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Tempat kedua:dalam “ ” كتاب الإيمان : باب ماجاء أن الأعمال بالنية
حَدَّثَنَا عبد الله بن مسلمة قال: أخبرنا مالك عن يحيى بن سعيد عن محمد بن إبرهيم عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيِّ عن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الأْعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلكل إمْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Tempat ketiga: dalam كتاب العتق: باب الخطاء والنسيان في العتاقة لا عتاقة إلا لوجه الله
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الاَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ولامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Tempat keempat: dalam باب مناقب الأنصار:باب هجرة النبي صلىالله عليه وسلم وأصحابه إلى المدينة
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ هُوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ يَحْيَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Tempat kelima: dalamكتاب النكاح: باب من هاجر او عمل خيرا لتزويج امراة فله مانوى
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ قَزَعَةَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَمَلُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Tempat keenam: dalam كتاب الإيمان والنذور:باب النية في الإيمان
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ يَقُولُ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Tempat ketujuh: dalam باب ترك الحيل, وأن لكل امرئ مانوى في الأيمان وغيرها
حَدَّثَنَا أبو النعمان حَدَّثَنَا حماد بن زيد عن يحيى بن سعيد عن محمد بن إبرهيم عن علقمة بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ قُالُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُم, يخطب, قُالُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُول:ُ ياأيها الناس!إِنَّمَا الأعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ هاجر إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Imam al-Bukhari sering mengulang hadis dalam al-Jami’ al-shahih lebih dari sepuluh tempat, demikian itu ada beberapa alasan:
Pertama: Imam al-Bukhari tidak akan mengulang hadis kecuali jika hadis tersebut mengandung faedah dalam sanad, semisal: imam al-Bukhari meriwayatkan hadis dari sahabat, kemudian menyebutkan hadis yang sama dengan sahabat yang berbeda guna menjelaskan yang gharib atau juga menguatkan hadis dengan shighat العنعنة dipaparkan kembali di tempat lain dengan sanad berbeda dan menggunakan sighat السماع .
Kedua: Imam al-Bukhari terkadang mengulang hadis pada bab yang sama, dan terkadang dalam bab yang lain, dan kadang imam al-Bukhari mengulang hadis dalam kitab yang lain pada Jami’ al-Sahih.
Imam al-Bukhari juga dalam beberapa hadis membuang sanad hadis tersebut, misalkan قال مالك عن نافع عن أبي عمر كذا… , ada sanad yang terputus (tidak disebut) antara imam al-Bukhari dan imam Malik. Menurut ibn Hajar adanya hadis muallaq dalam Sahih al-Bukhari bukanlah dalam hadis pokok, dan imam al-Bukhari hanya berusaha memaparkan adanya tabi’ dan syahid, karena menurut ibn hajar dengan melihat judul kitab yang imam al-bukhari berikan, kitab ini hanya meriwayatkan hadis sahih di dalamnya.
sedikit catatan, ada sejumlah kitab yang tidak memuat bab, ada pula sejumlah bab yang berisi banyak hadis tetapi ada pula hanya berisi beberapa hadis saja, bahkan ada pula bab yang hanya berisi ayat-ayat al-quran tanpa disertai hadis, bahkan ada yang kosong tanpa isi.

D. Kriteria kesahihan hadis menurut Imam al-Bukhari
Para ulama hadis sepakat mensyaratkan hadis dinilai sahih ketika diriwayatkan dengan sanad yang bersambung pada Nabi Muhammad saw oleh rawi-rawi yang adil (jujur dan Taqwa) dan Dhabit (kuat ingatannya), tidak ada illat (cacat) dan Syadz (kejanggalan) . dalam menentukan “sanad bersambung kepada Nabi Muhammad saw” ulama mensyaratkan adanya kemungkinan bertemu antara perawi pertama dan perawi kedua karena hidup satu masa- begitu seterusnya. Apabila antara murid dan guru ada kemungkinan bertemu, ahli hadis menilai sanad itu bersambung meskipun keduanya tidak pernah bertemu sama sekali.
Imam al-Bukhari memang tidak menentukan secara eksplisit kriteria atau persyaratan standar bagi sahihnya suatu hadis, namun ulama hadis telah berupaya meneliti beberapa yang diduga kuat merupakan pedoman imam al-Bukhari.
Disamping persyaratan di atas, ternyata imam al-Bukhari tidak cukup dengan kesejamanan (Mu’asharah) perawi dengan gurunya, tetapi mengharuskan adanya pertemuan antara keduanya, meski hanya sekali, karena alasan inilah para ulama mengatakan, Imam al-Bukhari memiliki dua syarat yaitu Muasharah dan liqa’ (bertemu perawi dengan gurunya). Hal inilah yang membedakannya dengan kriteria imam Muslim dimana beliau hanya mensyaratkan muasharah tanpa harus liqa”
Syarat imam al-Bukhari lainnya mengenai para perawi (rijal), dari hasil penelitian yang dilakukan oleh ulama abad ke enam hijriyyah yakni imam Hazami dan Maqdisi tentang kriteria hadis sahih menurut imam al-Bukhari bahwasanya imam al-Bukhari hanya menuliskan hadis-hadis dari periwayat thabaqah pertama dan sedikit dari tingkat kedua itupun dengan penyeleksian terlebih dahulu, sedangkan tingkat berikutnya Bukhari tidak menggunakannya, hal tersebut bisa disimpulkan dari penelitian terhadap murid-murid al-Zuhri, bahwa murid al-Zuhri dapat dibagi menjadi lima tingkatan, tingkat pertama adalah yang diakui ketsiqahannya dan lama bersama gurunya, tingkat kedua mereka yang mempunyai sifat yang sama tapi tidak lama berguru dengan al-Zuhri, tingkat ketiga adalah mereka yang dikenal ke-dhabt- annya dan lama bersama gurunya, tingkat keempat sama dengan tingkat ketiga namun tidak lama bersama gurunya dan kelima mereka yang majruh dan lemah.

F. Metodologi penyusunan kitab dan bab sahih al-Bukhari
Adapun metodologi yang digunakan dalam penulisan kitab, khususnya dalam penempatan dan penggunaan tarjamah kitab (judul-judul bab), imam al-Bukhari mengklasifikasikannya menjadi tiga bentuk:
Pertama, al-Tarjamah al-Dzahirah (jelas), judul bab tersebut menggambarkan hadis tersebut dengan dilalah (semantik) yang jelas dari hadis-hadis itu sendiri, baik penyusunannya menggunakan shighat khabariyyah seperti : باب فرض صدقة الفطر , atau juga dengan sighat istifham seperti: هل على من لم يشهد الجمعة غسل من النساء و الصبيان وغيرهم
Dalam al-Jami’ al-sahihnya al-Bukhari menggunakan sighat khabariyyah dalam permasalahan yang sudah mendapat legitimasi hukum dan kesepakatan ulama dari para ulama, namun terhadap permasalahan-permasalahan yang mengandung kontraversi, beliau menggunakan sighat istifhamiyyah.
kedua, tarjamah al-Istinbathiyyah, penggunaan judul bab yang tidak dapat dipahami pembaca sejauhmana kaitannya dengan hadis yanng dimaksud, disini dibutuhkan kemampuan untuk mengkorelasikan antara susunan bab dengan hadis, dibutuhkan proses berfikir dan penelitian yang intensif. Misalnya:
“bab mengenai barang siapa melihat qadhi menetapkan sesuatu perkara manusia berdasarkan pengetahuannya…) kemudian imam al-Bukhari menyebutkan hadis Aisyah mengenai istri Abu Sufyan yang mengatakan bahwa” sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang lelaki yang bakhil, apakah berdosa bagiku jika aku memberi makan anak-anak yang menjadi tanggung jawab kami dengan hartanya? Kemudian Rasulullah bersabda: tidak ada dosa bagimu karena memberi mereka makan dari harta yang baik. Dari sini imam al-Bukhari menarik beberapa kesimpulan diantaranya bahwa jawaban rasulullah menunjukkan bahwa ini merupakan persoalan yang berlaku di masyarakat, dan ditetapkan rasulullah berdasarkan pengetahuannya, bukan atas dalil atau ketetapan hukum tertentu. Ini boleh dalam persoalan-persoalan sosial, bukan dalam masalah hudud dan qisas.
Ketiga, tarjamah al-Mursalah, penggunaan judul bab yang bersifat mutlak (tidak terikat), dengan kalimat atau kata tertentu, misalkan pencantuman dalam “(bab)” saja tidak ada tambahan sesuatupun. Tarjamah seperti ini digunakan al-Bukhari apabila bab tersebut masih merupakan bagian dari bab sebelumnya, atau bisa dikatakan pasal dari bab tersebut, atau bisa juga bab tersebut memiliki cakupan yang luas yang berkaitan dengan judul atau bagian bab pembahasan yang telah terklasifikasi dalam beberapa bab.

G. Posisi dan pendapat ulama mengenai Sahih al-Bukhari
Ghalib diketahui, Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim merupakan kitab paling sahih setelah al-Quran, meskipun Sahih al-Bukhari berada diatas kitab sahih muslim ditinjau dari kesahihannya.
Berbicara mengenai al-jami’ al-sahih, banyak komentar-komentar ulama yang berbicara mengenai kesahihan dan kelebihan kitab ini. Al-Marwazy mengatakan “ketika ia tertidur dekat makam Rasulullah saw, dan ia melihat Rasulullah dalam mimipi dan mengatakan: “wahai Abu zaid! Sampai kapan kamu mempelajari al-Syafi’I, dan apa yang kamu pelajari dari kitabku?” abu Zaid lalu bertanya: apa kitabmu wahai Rasulullah? “Rasulullah menjawab: Jami’ Muhammad ibn Ismail al-Bukhari.
Al-Nasai mengatakan bahwa: sebaik-baik kitab adalah kitab imam al-Bukhari. Al-Dahlawy juga mengatakan: kedua kitab sahih ini, ahli hadis telah berpendapat bahwa hadis-hadis muttasil marfu’ pasti berkualitas sahih, dan kedua kitab ini, secara mutawatir kita terima dari penyusunnya. Siapa yang meremehkan kedua kitab tersebut berarti telah berbuat bidah.

Penutup
Melihat sosok Imam al-Bukhari dan menilik karya-karya yang beliau hasilkan, membuat kita semakin kecil dihadapannya. Betapa besar niat dan usaha beliau untuk memperkenalkan dan menjaga hadis-hadis nabi saw sehingga bisa sampai dan diamalkan oleh seluruh umat muslim di dunia.
Terlepas dari pujian maupun kritikan yang dilontaran atas beliau, tetap tidak akan pernah mempengaruhi atau bahkan memperkecil sosok dan peran imam al-Bukhari dalam perkembangan hadis.

Peta
Rihlah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah al-Bukhari (194-256 H/810-870 M)

Referensi:
M. Kyeir al-Sya’al, Lamhat fi A’lami al-Muhaddisin wa Manahijihim, Jeddah; Saudi Arabia, 1982

Abu tayyeb al-Sayed shiddiq Hasan al-Qanujy, al-Hithtah fi dzikr al-Shihhah al-sittah, Beirut: Dar al-Kutub, 1985.

Haji Khalifah, Kasyf al-Zunun an Asami al-Kutub wa al-Mutun, (Beirut: Dar al-Ulum al-Haditsah, tth)

Ibn Hajar al-Asqalany, al-Hady al-Sary, Muqaddimah fath al-Bary Syarah shahih al-Bukhari,(beirut: Dar al-Fikr.

Al-Imam al-Bukhary, Shahih al-Bukhary: Maushuah al-sunnah wa Syuruhuha, (dar al-Dakwah: Istanbul, 1992

Dr Akram dhiya’ al-Umri, Buhuts Tarikh al-Sunnah al-Musyrifah, (Beirut:Muassasah al-risalah, 1975 M)

Dr. Muhammad Mubarak, Manahij al-Muhadditsin, (al-Azhar:Dar al-thaba’ah al-Muhammadiyyah, 1984 M),

Jalaluddin al-suyuthi, Tahabaqah al-Huffadz, (Beirut: dar al-Kutub, 1985)

Dr. Tsauqi Abu Khalil, Athlas al-Hadis al-Nabawi, (Beirut: Dar al-Fikt al-Ma’ashir,2003)
M. ibn Alawy al-malaky al-Hasany, al-Manhal al-latif fi Ushul al-Hadis al-Syarif, (Jeddah: Mathba’ah al-sahr, 1982). Muhammad Khair al-Syual, lamhat fi A’lam al-Muhadditsin wa manahijihim fi al- kutub al-Sittah, (tth)

Ibn Hajr al-Asqalani, Hadi al-Sary, (al-Qahirah: dar al-Manar, 1999), h.6-7, Dr. al-Zahrani, Tadwin al-Sunnah al-Nabawiyyah Nasy’atuhu wa Tathawuruhu min al-Qarni al-Awal ila Nihayah al-Qarni al-Tasi’ al-Hijri,( al-Madinah al-Munawwarah: Dar al-Khudayry, 1998)

al-Hazimy, Syuruth al-Aimmat al-Khamsah, (Kairo: Maktabah Athif, tth)

Maqsdisy, al-Kutub al-Shahhah al-Sitta, (Kairo: Maktabah Athif, (tth)

Dr. Hasan muhammad Maqbul, Mushthalah al-Hadis wa rijaluhu, (Shan’a: Maktabah al-Jayyid al-Jadid, 1988)

al-Zarkasy, al-Ijabat li Irad ma Istadrakathhu Aisyah alaa Shahabah, (Beirut: al-Maktab al-Islamy, 1980 M)

Ibn Hajar al-asqalany, Syarh al-Nukhbah ; Nuzhah al-Nazhri fi Taudhih Nukhbah al-Fikr bi tahqiq Nuruddin Itr, ( Damsik: Mathba’ah al-Shabah, 2000), h. 58
H. Ali Musthafa yakub, Imam al-Bukhari dan metodologi kritik dalam Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996)

Ajjaj al-Khatib, Penj. Ushul al-Hadits: pokok Ilmu Hadis , (Jakarta: Gema Media Pratama, tth)

M. Abu Syuhbah, Fi Rihab al-Sunnah al-Kutub al-Sittah, (Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah, 1969)

Ahmad Umar Hasyim, Mabahits fi al-Hadis al-Syarifah-Qahirah: Maktabah al-Syuruq, 2000)

Leave a Reply

Subscribe to RSS Feed Rss